Wednesday, 6 May 2015

POINT SUKSES BUDIDAYA CACING LUMBRICUS RUBELLUS


Mengetahui bahwa budidaya cacing lumbricus dapat dijadikan sebagai peluang usaha sampingan yang sangat menjanjikan, sangatlah mudah jika kita mau berusaha dengan sungguh -sungguh dan sebelum memulai usaha tersebut, alangkah baiknya jika kita mengenal lebih dekat mengenai point-point sukses budidaya cacing lumbricus. Sebagai langkah dasar untuk memulai budidaya, agar mendapatkan hasil yang maksimal. Berikut adalah point -point pendekatan sebagai langkah sukses budidaya cacing lumbricus berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang sudah kita lakukan.

1. Pendekatan dan mengenal lebih jauh cacing lumbricus rubellus.
2. Langkah sukses memulai budidaya cacing lumbricus rubellus.

Pendekatan dan Mengenal Lebih Jauh Cacing Lumbricus Rubellus

a. Apa nama jenis cacingnya ?
    -  Lumbricus Rubellus

b. Apa keunggulan jenis cacing lumbricus rubellus ?
    -  Perkembangbiakanya lebih cepat
    -  Pertumbuhanya lebih cepat

c. Apa perbedaan cacing lumbricus dengan cacing alam?
    -  Bentuk cacing lumbricus pipih, sedangkan cacing alam bulat.
    -  Gerakan cacing lumbricus pelan, sedangkan cacing alam lebih cepat
    -  Warna cacing lumbricus lebih terang, sedangkan cacing alam lebih gelap.
    -  Cacing lumbricus cenderung berkoloni, sedangkan cacing alam lebih liar
    -  Konsistensi tubuh cacing lumbricus lebih lunak, sedangkan cacing alam lebih keras.

d. Bagaimana cara mengetahui usia cacing lumbricus ?
    -  Usia cacing bisa diketahui melalui tingkat kerapatan segmen / garis lingkar
       disepanjang tubuhnya. Semakin rapat segmennya semakin tua usianya.

e. Apa saja fase perkembangan cacing lumbricus ?
    -  Fase belum produktif usia 0-1.5 bulan.
    -  Fase mulai produktif usia 1.5-2 bulan.
    -  Fase produktif usia 2-6 bulan.
    -  Fase kurang produktif usia 6-12 bulan.
    -  Fase tidak produktif usia > 1 tahun.

f. Apa yang dimaksud cacing bersifat hemafrodit ?
    -  Hemafrodit artinya cacing memiliki dua alat kelamin ganda, Yaitu alat kelamin jantan
       (posisi tubuh bagian atas ) dan alat kelamin betina (posisi tubuh bagian bawah).

g. Bagaimana cara cacing melakukan perkawin?
    -  Meskipun cacing mempunyai alat kelamin ganda, tetapi cacing tidak bisa melakukan
        perkawinan sendiri. Cacing harus mendapatkan pasanganya untuk melakukan
        perkawinan dengan posisi berbalik dimana alat kelamin jantan menempel pada alat
        kelamin betina pasanganya.

h. Berapa lama masa kopulasi/ perkawinan cacing berlangsung ?
    -  Kopulasi atau perkawinan cacing berlangsung selama 2-3 jam. Selanjutnya saling
       melepaskan diri.

i. Diwaktu kapan cacing melakukan perkawinan?
    -  Umumnya cacing melakukan kawin pada malam hari. Karena semua aktivitas cacing
       misalkan : berpindah tempat, makan, mencari pasangan dll, umumnya dilakukan pada
       malam hari mengingat cacing adalah hewan nocturnal/ atau tidak menyukai cahaya.

j. Bagaimana cacing bertelur ?
    -  Proses embrio menjadi larva cacing berlangsung selama 14 hari. Selanjutnya telur
       ( kokon) yang berisi larva, dikeluarkan melalui mulut cacing dengan gerakan
       peristaltik/ gerak dorong dari seluruh otot tubuh cacing. Umumnya ketika cacing
       mengeluarkan telur, ekor cacing melilit/ melingkar di permukaan.

k. Dalam satu telur ada berapa larva cacing ?
    -  Dalam 1 telur bisa berisi 2-14 larva, namum tidak semua telur cacing yang menetas
       dan mengeluarkan larva cacing bisa bertahan hidup, tergantung kondisi tubuh larva
       itu sendiri dan lingkungan hidupnya.

l. Bagaimana bentuk kokon atau telur cacing?
    -  Kokon cacing berbentuk seperti bulat lonjong berwarna hijau semu sebesar pentol
       korek. Semakin tua usia telur, semakin gelap warnanya.

Langkah Sukses Memulai Budidaya Cacing Lumbricus Rubellus.

a. Kenapa cacing perlu dijadikan komoditas budidaya ?
    -  Prospek pasar cacing sangat terbuka
    -  Budidaya cacing relatif mudah dan murah
    -  Makanan cacing hampir semua limbah organik
    -  Perkembangbiakan yang relatif cepat dan alami
    -  Resiko penyakit dalam budidaya cacing relatif sangat minim
    -  Harga cacing relatif tinggi

b. Bagaimana prospek pasar cacing ?
    -  Sentra pembenihan ikan air tawar
    -  Pembuatan pakan pelet untuk perikanan
    -  Pembuatan sentrat untuk pakan peternakan
    -  Komunitas burung pemakan cacing
    -  Kolam pemancingan
    -  Home industri herbal
    -  Perusahaan kosmetik
    -  Perusahaan farmasi
    -  Pembudidaya ikan sidat, lele, udang dll

c. Bagai mana persyaratan tempat tinggal cacing yang layak ?
    -  Sebaiknya ada peneduh / penutup sehingga tidak terkena sinar matahari
       langsung, karena cacing sensitif terhadap sinar matahari. Peneduh cacing bisa
       terbuat dari terpal, kain, paranet, asbes,bambu dll.
    -  Tempat tinggal cacing harus menjamin bahwa sirkulasi/ resapan air harus lancar
        atau cepat tuntas. Karena cacing tidak suka pada tempat yang kandungan airnya
        tinggi/ berlumpur.
    -  Tempat tinggal cacing harus mudah dijangkau oleh tangan, sehingga mudah
       dikontrol, mudah saat perawatan rutin dan saat panen.

d. Apakah budidaya cacing bisa dilakukan di daerah yang suhunya panas ?
    -  Budidaya cacing tidak dipengaruhi oleh suhu lingkungan, tetapi dipengaruhi
       kondisi media cacingnya itu sendiri.

e. Terbuat dari apakah rumah cacing yang paling bagus ?
    -  Model kolam persegi dari bahan semen dan batu bata/ paving/ batako.
    -  Model kolam persegi dari bahan terpal/ banner.
    -  Model kotak kayu seukuran kotak telur
    -  Model rak kayu bertingkat
    -  Model kotak keranjang buah

f. Apakah ciri media yang sehat ?
    -  Gembur
    -  Selalu ada media baru ( proporsi 50% media-50% kascing )
    -  Kelembaban media normal ( tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering )
    -  Temperatur / suhu media stabil pada suhu normal
    -  PH media netral ( 6.5-7 )

g. Apakah ciri cacing sehat ?
    -  Respon cacing terhadap sentuhan, cahaya dll relatif cepat.
    -  Warna kulit lebih bercahaya dan terang, tidak pucat.
    -  Gerakan aktif
    -  Nafsu makan stabil sesuai dengan porsi pakan standar.

h. Kapan sebaiknya memberikan media baru?
    -  Setiap pemberian pakan, sekaligus pemberian media tipis sekedar menutupi
       pakan agar tidak cepat kering/ mengundang hama.
    -  Pemberian media dijadwalkan 1x/ minggu diberikan secara merata dipermukaan
       media dengan ketebalan 2-3 cm.

i. Apa saja yang bisa dijadikan media ?
    -  Bekas log jamur
    -  Serbuk gergaji yang sudah mengalami lapuk, dan jenis serbuk dari kayu yang
        rendah kandungan getahnya ( misal gergaji kayu sengon, randu, akasia dll )
    -  Jerami padi yang sudah lapuk
    -  Humus atau kompos alami
    -  Kotoran sapi/ kambing/ kelinci/ ayam/bebek yang sudah lama
    -  Cocopit/ serabut kelapa dll.

j. Bagaimana cara melapukkan serbuk gergaji yang baru dan berapa lama?
   Point pertanyaan diatas bertujuan untuk menghindari terjadinya luka dan kondisi
   stres pada cacing. Apa bila cacing tidak cocok dengan media tempat tinggalnya,
   maka cacing akan terus keluar dan terjadi resiko kematian dalam media.
   Langkah yang baik uktuk menghindari itu dengan cara sebagai berikut:

    -  Cuci /siram dengan air supaya kandungan getah, minyak, olie, dalam serbuk
       gergaji berkurang.
    -  Serbuk kayu 3 karung ditambah percikan air yang mengandung fermentator/
       probiotik.
       Perbandingan probiotik dengan air adalah setiap 1 tutup botol probiotik
       dengan 1 liter air.
    -  Media yang sudah dicampur dengan probiotik tadi di taruh di tempat beralaskan
       terpal, kemudian ditutup rapat, setiap 2-3 hari dibolak -balik untuk mengurangi
       naiknya suhu media selama proses fermentasi.
  - Proses fermentasi berlangsung selama 2-3 minggu, baru media bisa digunakan.

k. Apakah manfaat fermentasi ?
    -  Mempercepat proses pelunakan/ pelapukan
    -  Menetralkan dampak negatif dari gas -gas, kelebihan asam, bakteri.
    -  Mengurangi polusi bau
    -  Menambah nafsu makan cacing

l.  Berapa ketebalan media sebagai awal budidaya ?
     -  Ukuran pertamakalinya ketebalan cukup 5 - 7 cm.

m. Dimanakah posisi cacing yang paling banyak / mayoritas ?
     -  Hampir 90% posisi cacing berada dipermukaan media. Sekitar pada ketebalan
        5-10 cm media paling atas.

n. Apa saja makanan yang disukai cacing ?
     -  Limbah rumah tangga: sisa nasi, sisa sayur, sisa lauk pauk.
     -  Limbah home industri: ampas tahu, ampas kelapa, ampas singkong.
     -  Limbah kotoran hewan: kotoran sapi, kambing, ayam, bebek, kelinci.
     -  Limbah organik : TPA
     -  Limbah lingkungan: humus, kompos, fermentasi rumput, azola dll.

o. Bagaimana cara menggunakan ampas tahu sebagai makanan?
     -  Cara kering, ampas tahu langsung ditebarkan secara merata ke media.
     -  Cara basah, ampas tahu dicampur dengan air sehingga kondisinya
         seperti bubur, lalu bisa langsung ditebarkan ke media.
     -  Cara fermentasi, ampas tahu dicampur dengan air kemudian ditambahkan
         probiotik + tetes (dengan perbandingan seperti cara fermentasi media
         serbuk gergaji ).
     -  Selanjutnya bisa diberikan ke cacing atau ditunggu 3-5 jam.

    Cacing bisa menghabiskan makanannya dalam sehari dengan porsi seberat
    bobot cacing tersebut, jika dalam 1 wadah terdapat cacing 1 kg maka makanan
    yang diberikan juga 1 kg dalam sehari.

p. Bagaimana cara cacing makan?
     -  Cacing makan dengan 2 cara yaitu dengan cara disedot jenis makanan
        yang bersifat basah dan ditelan untuk jenis makanan yang lunak.
     -  Mulut cacing hanya selubang jarum.
     -  Cacing tidak memiliki gigi, karena itu kita harus pandai pandai mengkondisikan
        makanan supaya tepat, efektif dan efisien.

q. Apakah cacing bisa mengalami stress?
     -  Media yang terlalu basah
     -  Media yang terlalu kering
     -  Media yang memadat
     -  Media yang terkontaminasi oleh bahan kimia, gas gas atau aroma yang kuat.

r. Apakah hama cacing?
     -  Hama bersifat kompetitor ( tidak makan cacing tapi makan makananya
        cacing) : semut, kutu tanah, orong-orong, rayap dll.
     -  Hama bersifat predator (makan cacing) : tikus, kadal, kodok, ayam, bebek dll.

s. Bagai mana mengatasi kutu tanah ( warna putih atau orange ) ?
     -  Kutu tanah termasuk hewan yang suka menempel pada media yang lembab.
        Misal kertas yang lembab, lembaran daun pisang dll. Jika kutu tanah banyak,
        kita bisa menaruh lembaran kertas koran/ karton yang sudah sedikit dibasahi
        diatas permukaan media, kita tunggu 1-2 jam dan ketika kutu tanah sudah
        banyak yang menempel,  kertas kita angkat, lalu kutu tanah kita buang.

t. Berapa rata prediksi perkembangan cacing?
     -  Secara umum perkembangan cacing dihitung dari bobot adalah 2x lipat / bulan.

Demikianlah beberapa point point penting yang harus dimengerti dan difahami
oleh seorang pembudidaya cacing lumbricus, agar dapat memperoleh hasil yang
maksimal dan tidak sia-sia dalam menjalankan bisnis budidaya cacing lumbricus. Semoga point- point diatas bermanfaat dan memudahkan untuk berbudidaya cacing lumbricus.
Lebih jelasnya lagi kita lihat gambar di bawah ini.

Gallery  :

Model rak bertingkat
Model kranjang buah
Model jedingan

Kokon (telur cacing)
Cara pemberian pakan cacing dengan ampas tahu
Log jamur bekas
Fermentator/ probiotik
Cocopit